MOHON MAAF

"Bagi sobat yang ingin copas, mohon maaf sekali karna untuk sementara blog dalam perbaikan jadi tidak diizinkan untuk di Copy"

Sabtu, 20 April 2013

Faktor - faktor yang berhubungan dengan penyebab terjadinya asma bronchial di poli klinik paru RSUD Karawang tahun 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran nafas dimana banyak sel berperan terutama sel mast, esonofil, limposit T magropag, neuropil dan sel epitel. (Slamet Hariadi, dkk 2010) Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakea dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu dan penyakit Asma mempunyai resiko kekambuhan yang tinggi (Alsagaf Hood 2010). Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan pajanan pada  asma bronchial, diantaranya Alergen, tekanan jiwa / stress, lingkungan kerja ( Hadibroto Iwan, dkk 2010). Sementara menurut Global Initiative For Asma, (2006) beberapa faktor resiko timbulnya asma bronkial antara lain: riwayat keluarga, etnis, letak geografi tempat tinggal, memelihara anjing atau kucing dalam rumah, terpapar asap rokok.

Secara umum faktor risiko asma dibagi kedalam dua kelompok besar, factor resiko yang berhubungan dengan terjadinya atau berkembangnya asma dan faktor resiko yang berhubungan dengan terjadinya eksaserbasi atau serangan asma yang disebut trigger faktor atau faktor pencetus adapun faktor resiko pencetus asma bronkial antara lain : Asap Rokok, Tungau Debu Rumah, Binatang Piaraan, Jenis Makanan, Perabot Rumah Tangga dan Perubahan Cuaca, Ppdi. (2006)

Who (2006), Dari 300 juta orang menderita asma 225 ribu meninggal di seluruh dunia. diperkirakan akan meningkat 10 % untuk sepuluh tahun mendatang, jika tidak terkontrol dengan baik. Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar  50% .Penelitian prevalensi asma di Australia yang didasarkan kepada  data atopi atau mengi menunjukkan kenaikan prevalensi asma akut di daearah lembah  (Belmont) dari 4,4%  menjadi 11,9%, dari daerah perifer yang kering  adalah sebesar 0,5% dari 215 anak dengan bakat atopi sebesar 20,5% dan mengi 2% .  

Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga SKRT (2005) di berbagai  provinsi  di  Indonesia,  asma  menduduki  urutan  kelima  dari  sepuluh penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis kronik  dan emfisema. Asma, bronkitis kronik, dan emfisema sebagai  penyebab  kematian  (mortalitas)  keempat  di Indonesia  atau  sebesar  5,6%. Dilaporkan prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1.000 penduduk Ppdi, (2006).

Di Sembilan  provinsi yang mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam di urutan pertama, diikuti oleh Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Penelitian multisenter di beberapa pusat pendidikan di Indonesia mengenai prevalensi asma pada anak usia 13-14 tahun menghasilkan angka prevalensi di Palembang 7,4%; di Jakarta 5,7%; dan di Bandung 6,7%.  Sidhartani di Semarang meneliti 632 anak usia 12-16 tahun dengan menggunakan kuesioner  International Study of  Asthma and Allergy in Children (ISAAC) dan pengukuran Peak Flow Meter (PFM) menemukan prevalensi asma 6,2%. (Rikesdas, 2007)

Sedangkan  Di RSUD Karawang pada tahun 2011 terdapat 360  pasien dengan asma yang berobat jalan di pili klinik paru RSUD Karawang, tahun 2012 meningkat menjadi 486 pasien dengan asma yang berobat jalan di pili klinik paru RSUD Karawang. Dari 15 responden yang di identifikasi penyebab dari asma yang di alaminya adalah, Asap rokok 63 % , Lingkungan kerja 15 % dan perubahan cuaca 32 %. Berdasarkan Fenomena tersebut diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut tentang “Faktor - faktor yang berhubungan dengan penyebab terjadinya asma bronchial di poli klinik paru RSUD Karawang tahun 2013”

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas terlihat peningkatan prevelensi kejadian asma bronchial di seluruh dunia yang cukup tinggi setiap tahunnya dan berdasarkan suvey singkat yang dilakukan oleh peneliti didapatkan penyebab terbanyak kejadian asma bronchial pada pasien rawat jalan di poli paru RSUD Karawang adalah asap rokok, Lingkungan kerja, dan perubahan cuaca. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab asma bronchial di poli klinik paru RSUD karawang.

C.    Tujuan penelitian
1.      Tujuan umum
a)         Diketahui factor-faktor yang berhubungan dengan penyebab terjadinya asma bronchial pada pasien asma bronchial di poli klinik paru RSUD Karawang tahun 2013.

2.      Tujuan Khusus
a)         Diketahui gambaran distribusi frekuensi dan demografi dari pasien asma bronchial di poli klinik paru RSUD karawang tahun 2013.
b)        Diketahui hubungan paparan asap rokok dengan penyebab terjadinya asma bronchial pada pasien asma bronchial di RSUD Karawang tahun 2013.
c)         Diketahui hubungan lingkungan kerja dengan penyebab terjadinya asma bronchial pada pasien asma bronchial di RSUD Karawang tahun 2013.
d)        Diketahui hubungan perubahan cuaca dengan penyebab terjadinya asma bronchial pada pasien asma bronchial di RSUD Karawang tahun 2013.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi ilmu pengetahuan tentang factor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit asma

2.      Pelayanan kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan dalam promosi kesehatan guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama asuhan keperawatan yang cepat dan tepat.

3.      Peneliti
Diharapkan sebagai langkah awal penelitian berikutnya untuk penelitian sejenis yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma bronchial sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan praktek keperawatan yang akan datang.
UNTUK BAB SELANJUTNYA BISA HUBUNGI : 081906696499

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar